Kalau baru mulai beternak puyuh, biasanya orang fokusnya cuma satu, bagaimana caranya telur banyak dan kandang cepat balik modal. Itu wajar. Saya juga dulu begitu. Yang dipikirkan cuma pakan, vitamin, sama harga telur di pasar.
Tapi setelah lama menjalani ternak puyuh, ternyata ada satu hal yang sering bikin produksi turun diam-diam, yaitu terlalu lama mempertahankan puyuh yang sebenarnya sudah masuk masa afkir.
Masalahnya, banyak peternak pemula kadang tidak sadar kapan puyuh mulai turun produktivitasnya. Karena secara fisik beberapa masih terlihat normal. Makannya masih lahap, masih berdiri aktif, bahkan sesekali masih bertelur. Padahal kalau dihitung-hitung, hasil telurnya sudah jauh berbeda dibanding waktu awal produksi.
Hal seperti ini sering bikin biaya pakan membengkak tanpa disadari.
Awalnya Saya Juga Mengira Semua Puyuh Masih Produktif
Dulu pernah ada masa saya merasa kandang baik-baik saja. Jumlah puyuh masih lengkap, pakan rutin, minum juga normal. Tetapi tiap pagi waktu ambil telur, jumlahnya makin lama makin sedikit.
Awalnya saya kira cuaca.
Besoknya saya kira pakannya.
Lalu sempat curiga lampu kandang kurang terang.
Tetapi setelah ngobrol dengan peternak yang lebih senior, ternyata masalah utamanya ada di umur puyuh yang sudah terlalu lama dipelihara.
Katanya sederhana:
“Kalau puyuh sudah afkir, mau dikasih pakan bagus juga hasilnya tetap beda.”
Dari situ baru mulai paham kalau dalam ternak puyuh, seleksi itu penting. Kadang bukan soal sayang atau tidak sayang, tetapi soal efisiensi kandang juga.
Apa Itu Puyuh Afkir?
Bahasa gampangnya, puyuh afkir itu puyuh yang produksinya sudah turun dan tidak seefisien dulu lagi untuk menghasilkan telur.
Biasanya ini terjadi karena faktor umur. Tetapi kadang bisa juga karena stres, penyakit, atau kondisi kandang yang kurang bagus terlalu lama.
Puyuh sebenarnya punya masa produktif terbaik. Nah setelah lewat masa itu, hasil telurnya biasanya mulai turun pelan-pelan.
Ada yang turunnya drastis.
Ada juga yang pelan tapi pasti.
Yang sering bikin peternak terlambat sadar justru tipe kedua ini.
Karena tiap hari turunnya sedikit, jadi tidak terlalu terasa.
Tanda yang Paling Mudah Dilihat
Kalau ditanya ciri paling gampang mengenali puyuh afkir, jawabannya biasanya dari hasil telur.
Puyuh yang masih bagus produksinya biasanya cukup stabil. Hampir tiap hari ada hasil yang lumayan.
Tetapi puyuh yang mulai afkir beda.
Kadang hari ini bertelur.
Besok tidak.
Lusa ada lagi satu.
Produksinya sudah tidak konsisten.
Kalau di kandang jumlahnya banyak, penurunannya langsung terasa waktu panen telur pagi hari.
Telurnya Mulai Berubah
Saya pernah melihat sendiri beberapa puyuh tua yang masih bertelur, tetapi kualitas telurnya berbeda dibanding puyuh produktif.
Ukurannya lebih kecil.
Cangkangnya tipis.
Kadang bentuknya agak aneh.
Awalnya saya kira cuma kebetulan. Tetapi ternyata memang itu salah satu tanda kemampuan reproduksi puyuh mulai menurun.
Peternak yang sudah biasa biasanya langsung paham dari bentuk telurnya saja.
Bulu Mulai Kelihatan Kusam
Kalau diperhatikan dekat-dekat, puyuh afkir biasanya memang punya penampilan berbeda.
Bulunya tidak serapi dulu.
Warnanya juga agak kusam.
Ada yang mulai terlihat kurus meskipun makannya masih ada.
Yang paling gampang sebenarnya dari gerakannya. Puyuh tua biasanya tidak selincah puyuh muda.
Mereka lebih banyak diam.
Kadang cuma berdiri di pojok kandang.
Tidak Semua Puyuh Tua Langsung Jelek
Ini yang kadang salah dipahami.
Tidak semua puyuh tua otomatis harus langsung diafkir.
Saya pernah punya beberapa ekor yang usianya sudah lumayan tua tetapi telurnya masih bagus.
Memang jumlahnya tidak sebanyak dulu, tetapi masih cukup layak dipelihara.
Karena itu sebenarnya peternak tidak bisa cuma melihat umur saja.
Harus lihat juga:
- produksi telurnya
- kondisi tubuh
- kualitas telur
- nafsu makan
- gerakannya
Kalau semuanya masih bagus, biasanya masih dipertahankan beberapa waktu.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula
Kalau dipikir-pikir, dulu saya juga melakukan kesalahan yang sama seperti kebanyakan pemula.
Terlalu sayang mengafkir puyuh.
Rasanya sayang karena sudah dipelihara dari kecil. Jadi tetap dipertahankan walaupun hasil telurnya makin sedikit.
Padahal kalau dihitung, biaya pakannya terus jalan.
Ini yang sering tidak terasa.
Puyuh afkir biasanya tetap makan cukup banyak, tetapi hasil telurnya sudah jauh turun.
Kalau jumlahnya ratusan ekor, selisihnya besar sekali.
Pernah Ada Tetangga yang Salah Menyalahkan Pakan
Ada juga pengalaman dari tetangga yang sama-sama beternak puyuh.
Dia sempat ganti merek pakan sampai beberapa kali karena merasa hasil telurnya jelek.
Telurnya kecil-kecil dan jumlahnya turun.
Awalnya semua orang mengira masalahnya memang dari pakan.
Tetapi setelah dicek umur puyuhnya ternyata rata-rata sudah lewat masa produktif.
Akhirnya sebagian kandang diganti bibit baru.
Beberapa minggu kemudian hasilnya langsung beda.
Dari situ baru kelihatan kalau sebenarnya masalah utama bukan pakannya.
Puyuh Afkir Biasanya Lebih Pasif
Kalau sudah lama melihat puyuh tiap hari, sebenarnya cukup gampang membedakan mana yang masih produktif dan mana yang mulai turun.
Puyuh yang masih bagus biasanya:
- aktif bergerak
- responsif
- rebutan makan
- lebih lincah
Sedangkan puyuh afkir cenderung:
- diam lebih lama
- tidak terlalu aktif
- lebih sering menyendiri
- gerakannya lambat
Walaupun terdengar sepele, perubahan kecil seperti ini cukup penting.
Nafsu Makan Kadang Masih Normal
Ini yang sering bikin bingung.
Kadang puyuh afkir masih makan normal. Bahkan lahap.
Tetapi telurnya sedikit.
Makanya peternak tidak bisa hanya melihat nafsu makan saja untuk menentukan puyuh masih produktif atau tidak.
Yang paling penting tetap hasil produksinya.
Umur Memang Sangat Berpengaruh
Dalam ternak puyuh, umur memang berpengaruh besar terhadap produktivitas.
Biasanya setelah masuk usia tertentu, kemampuan bertelur mulai menurun.
Beberapa peternak mulai seleksi saat umur sekitar satu tahun lebih.
Tetapi tiap kandang bisa berbeda.
Karena faktor seperti:
- kualitas pakan
- suhu kandang
- pencahayaan
- stres
- perawatan
juga ikut memengaruhi panjang pendeknya masa produksi.
Kadang Puyuh Terlihat Sehat Tapi Sudah Tidak Untung
Ini kenyataan yang sering terjadi.
Secara fisik mungkin masih terlihat sehat.
Tidak sakit.
Tidak luka.
Masih makan.
Tetapi kalau hasil telur sudah terlalu sedikit, peternak biasanya mulai menghitung ulang apakah masih layak dipelihara atau tidak.
Karena dalam usaha ternak, hitung-hitungan biaya tetap penting.
Pengaruh Kondisi Kandang
Kadang sebenarnya puyuh belum benar-benar afkir, tetapi produksinya turun karena kondisi kandang buruk.
Misalnya:
- kandang terlalu panas
- ventilasi jelek
- suara berisik
- pencahayaan tidak stabil
Kalau kondisi seperti ini diperbaiki, kadang produksi bisa naik lagi.
Makanya sebelum buru-buru afkir massal, biasanya peternak berpengalaman akan mengecek kondisi kandang dulu.
Pentingnya Catatan Produksi
Peternak yang sudah lama biasanya punya catatan sederhana.
Tidak harus rumit.
Minimal tahu:
- umur puyuh
- jumlah telur harian
- konsumsi pakan
Karena dari situ lebih gampang melihat kapan produksi mulai turun.
Kalau hanya mengandalkan perkiraan, biasanya telat sadar.
Puyuh Afkir Masih Bisa Dijual
Banyak pemula takut rugi saat mengafkir puyuh.
Padahal sebenarnya puyuh afkir masih punya nilai jual.
Biasanya dijual untuk konsumsi atau ke pengepul.
Jadi bukan langsung dibuang.
Hasil penjualannya bisa dipakai tambah modal bibit baru yang lebih produktif.
Ada Peternak yang Sengaja Mengafkir Bertahap
Saya pernah ngobrol dengan peternak yang kandangnya lumayan besar.
Katanya dia tidak pernah mengganti semua puyuh sekaligus.
Biasanya bertahap.
Jadi setiap beberapa bulan ada sebagian yang diafkir dan diganti bibit baru.
Menurutnya cara seperti ini lebih aman supaya produksi telur kandang tidak turun drastis sekaligus.
Dan memang masuk akal juga.
Jangan Terlalu Lama Menunda
Kadang rasa sayang bikin peternak menunda afkir terlalu lama.
Padahal semakin lama ditunda:
- biaya pakan makin besar
- produksi makin turun
- kandang makin tidak efisien
Memang awalnya terasa berat, apalagi kalau sudah memelihara lama.
Tetapi dalam usaha ternak, keputusan seperti ini memang harus dipikirkan.
Menurut Saya Ini yang Paling Penting
Kalau boleh jujur, salah satu hal paling penting dalam ternak puyuh sebenarnya bukan cuma soal memperbanyak telur.
Tetapi tahu kapan harus mempertahankan dan kapan harus mengganti ternak.
Karena kadang masalah kandang bukan pada penyakit atau pakan mahal.
Melainkan karena terlalu banyak puyuh yang sebenarnya sudah lewat masa produktif.
Kesimpulan
Ciri puyuh afkir sebenarnya cukup mudah dikenali kalau sudah terbiasa memperhatikan kondisi kandang setiap hari.
Biasanya mulai terlihat dari:
- produksi telur yang turun
- ukuran telur mengecil
- bulu kusam
- gerakan lebih pasif
- tubuh lebih kurus
Tidak semua puyuh tua langsung harus diafkir, tetapi peternak tetap perlu menghitung efisiensi produksi supaya biaya pakan tidak lebih besar dibanding hasil telur.
Dan yang paling penting, jangan hanya melihat kondisi luar. Kadang puyuh terlihat sehat, tetapi sebenarnya sudah tidak produktif lagi.
FAQ
Apa itu puyuh afkir?
Puyuh afkir adalah puyuh yang produksi telurnya sudah menurun sehingga tidak lagi seefisien sebelumnya.
Umur berapa puyuh mulai afkir?
Biasanya sekitar 12 bulan ke atas, tetapi tiap kandang bisa berbeda tergantung perawatan.
Apakah puyuh afkir masih bisa bertelur?
Masih bisa, tetapi produksinya biasanya sudah tidak stabil dan jumlahnya sedikit.
Apa tanda paling gampang melihat puyuh afkir?
Jumlah telur mulai turun padahal pakan dan perawatan masih sama.
Apakah puyuh afkir harus langsung dijual?
Tidak selalu. Kalau masih cukup produktif biasanya masih dipertahankan sementara.
Kenapa telur puyuh jadi kecil?
Bisa karena umur, kondisi tubuh menurun, atau faktor lingkungan kandang.
Apakah semua puyuh kurus pasti afkir?
Belum tentu. Bisa juga karena sakit atau kurang nutrisi.
Kenapa pencatatan produksi penting?
Supaya peternak lebih mudah melihat kapan produksi mulai turun dan kapan perlu seleksi ternak.




Leave a Comment